Jumat, 10 Juli 2015

Kewajiban Belajar Mengejar




Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Kewajiban Belajar Menganjar  “( Kajian Surah  Al - Alaq  /96; 1 – 5  ). Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas Mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. 
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

                                                                                                                   


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................ i     
DAFTAR ISI..................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................. 1
1. Latar Belakang Masalah................................................................ 1
2. Tujuan........................................................................................... 1
3. Metode Penulisan........................................................................... 1     
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................
A. Teks Ayat Dan Terjemahnya........................................................ 2     
B. Keterangan Umum Surah AL – Alaq............................................ 2     
C. Isi Pokok Surah Al - Alaq............................................................. 3     
D. Munasabah Surah ar- rahman dengan surah sebelum & sesudahnnya  3
E. Tafsir ayat..................................................................................... 4     
F. Intisari Surah Al - Alaq Ayat 1-5.................................................. 6     
BAB III PENUTUP........................................................................... 8
Kesimpulan........................................................................................ 8


Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1. latar belakang Masalah

Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. Dalam belajar, kita tidak bisa melepaskan diri dari beberapa hal yang dapat mengantarkan kita berhasil dalam belajar. Banyak orang belajar dengan susah payah, tetapi tidak mendapat hasil apa-apa, hanya kegagalan demi kegagalan yang ditemui.
Namun kita tidak boleh putus asa, sebagai orang Islam kita wajib menuntut ilmu dari lahir hingga keliang kubur, dengan Kekuasaan Allah maka kita pasti bisa meraihnya dan sebagai orang yang berilmu kita juga wajib mengamalkannya.

2. Tujuan penulisan
Makalah ini disusun agar para pembaca dan yang membuatnya dapat mengetahui Konsep belajar dan mengajar ,sehingga mereka dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teks Ayat Dan Terjemahnya
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


B. Kandungan Surah Al - Alaq
Surah Al-'Alaq (سورة العلق) adalah surah ke-96 dalam Al Quran. Surah Al-'Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al-Quran yang pertama sekali diturunkan, iaitu di waktu Nabi Muhammad s.a.w. di Gua Hira'. Surat ini dinamai Al 'Alaq (segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan Iqra atau Al Qalam.[1]
Isi kandungan yaitu sebagai berikut :
  • Perintah membaca Al Quran;
  • manusia dijadikan dari segumpal darah;
  • Allah menjadikan kalam (firman ) sebagai alat mengembangkan pengetahuan;
  • manusia bertindak melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup;
  • ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.
Surat Al 'Alaq menerangkan bahawa Allah menciptakan manusia dari benda yang hina kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi manusia tidak ingat lagi akan asalnya, kerana itu dia tidak mensyukuri nikmat Allah itu, bahkan dia bertindak melampaui batas kerana melihat dirinya telah merasa serba cukup.
C. Isi Pokok Surah Al – Alaq
Surat Al-’Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat di gua Hira’. Surat ini dinamai “Al-’Alaq” (segumpal darah), diambil dari perkataan ’Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan “iqra’” atau “Al-Qalam”.
Pokok-pokok isinya:
Perintah membaca Al Qur’an; manusia dijadikan dari segumpal darah; Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan; manusia bertindak melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup; ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.[2]

D. Hubungan Surahb Al – Alaq dengan Surah sebelum/sesudahnya

HUBUNGAN SURAT AL-’ALAQ DENGAN SURAT AL-QADR:
Pada surat Al ’Alaq Allah memerintahkan agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membaca Al-Qur’an, sedang pada surat Al-Qadr Allah menerangkan tentang permulaan turunnya Al Qur’an.
(1) Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
(2) Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah: Abu Jahal dan yang dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. Akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. Setelah Rasulullah selesai shalat disampaikan orang berita itu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan: “Kalau jadilah Abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat
(3) Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.
(4) Malaikat Zabaniyah ialah malaikat yang menyiksa orang-orang berdosa di dalam neraka.
E. Tafsir ayat
“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta.” (ayat 1). Dalam waktu pertama saja, yaitu “bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama di dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi SAW disuruh membaca wahyu akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah mencipta.
Yaitu “Menciptakan manusia dari segumpal darah.” (ayat 2). Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah, yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan, yang setelah 40 hari lamanya, air itu telah menjelma jadi segumpal darah, dan dari segumpal darah itu kelak akan menjelma pula setelah melalui 40 hari, menjadi segumpal daging (Mudhghah).
Nabi bukanlah seorang yang pandai membaca. Beliau adalah ummi, yang boleh diartikan buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pula pandai membaca yang tertulis. Tetapi Jibril mendesaknya juga sampai tiga kali supaya dia membaca. Meskipun dia tidak pandai menulis, namun ayat-ayat itu akan dibawa langsung oleh Jibril kepadanya, diajarkan, sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah dia membacanya. Tuhan Allah yang menciptakan semuanya. Rasul yang tak pandai menulis dan membaca itu akan pandai kelak membaca ayat-ayat yang diturunkan kepadanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun kelak, dia akan diberi nama Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an itu pun artinya ialah bacaan. Seakan-akan Tuhan berfirman: “Bacalah, atas qudrat-Ku dan iradat-Ku.”
Syaikh Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juzu’ Ammanya menerangkan: “Yaitu Allah yang Maha Kuasa menjadikan manusia daripada air mani, menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia penuh, niscaya kuasa pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seseorang yang selama ini dikenal ummi, tak pandai membaca dan menulis. Maka jika kita selidiki isi Hadis yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga kali pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca, tiga kali pula Jibril memeluknya keras-keras, buat meyakinkan baginya bahwa sejak saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya, apatah lagi dia adalah Al-Insan Al-Kamil, manusia sempurna. Banyak lagi yang akan dibacanya di belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa dasar segala yang akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah jua.”
“Bacalah! Dan Tuhan engkau itu adalah Maha Mulia.” (ayat 3). Setelah di ayat yang pertama beliau disuruh membaca di atas nama Allah yang menciptakan insan dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruhnya membaca di atas nama Tuhan. Sedang nama Tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah Yang Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Kasih dan Sayang kepada Makhluk-Nya.
“Dia yang mengajarkan dengan qalam.” (ayat 4). Itulah keistimewaan Tuhan itu lagi. Itulah kemuliaan-Nya yang tertinggi. Yaitu diajarkan-Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka-Nya berbagai rahasia, diserahkan-Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan qalam. Dengan pena! Di samping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena adalah beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu.” (ayat 5).
Lebih dahulu Allah Ta’ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatatnya ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang telah ada dalam tangannya:
“Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.”
Maka di dalam susunan kelima ayat ini, sebagai ayat mula-mula turun kita menampak dengan kata-kata singkat Tuhan telah menerangkan asal-usul kejadian seluruh manusia yang semuanya sama, yaitu daripada segumpal darah, yang berasal dari segumpal mani.
Dan segumpal mani itu berasal dari saringan halus makanan manusia yang diambil dari bumi. Yaitu dari hormon, kalori, vitamin dan berbagai zat yang lain, yang semua diambil dari bumi yang semuanya ada dalam sayuran, buah-buahan makanan pokok dan daging. Kemudian itu manusia bertambah besar dan dewasa. Yang terpenting alat untuk menghubungkan dirinya dengan manusia sekitarnya ialah kesanggupan berkata-kata dengan lidah, sebagai sambungan dari apa yang terasa di dalam hatinya. Kemudian bertambah juga kecerdasannya, maka diberikan pulalah kepandaian menulis.
Di dalam ayat yang mula turun ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian membaca dan menulis. Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: “Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagianya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”
Maka kalau kaum Muslimin tidak mendapat petunjuk ayat ini dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan buat maju, merobek segala selubung pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap ilmu pengetahuan, atau merampalkan pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka terkurung dalam bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh pemuka-pemuka mereka sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan bodoh, dan kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka akan bangun lagi selama-lamanya.
Ar-Razi menguraikan dalam tafsirnya, bahwa pada dua ayat pertama disuruh membaca di atas nama Tuhan yang telah mencipta, adalah mengandung qudrat, dan hikmat dan ilmu dan rahmat. Semuanya adalah sifat Tuhan. Dan pada ayat yang seterusnya seketika Tuhan menyatakan mencapai ilmu dengan qalam atau pena, adalah suatu isyarat bahwa ada juga di antara hukum itu yang tertulis, yang tidak dapat difahamkan kalau tidak didengarkan dengan seksama. Maka pada dua ayat pertama memperlihatkan rahasia Rububiyah, rahasia Ketuhanan. Dan di tiga ayat sesudahnya mengandung rahasia Nubuwwat, Kenabian. Dan siapa Tuhan itu tidaklah akan dikenal kalau bukan dengan perantaraan Nubuwwat, dan nubuwwat itu sendiri pun tidaklah akan ada, kalau tidak dengan kehendak Tuhan.
F. Intisari Surah Al – Alaq
Surat Al-’Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat di gua Hira’. Surat ini dinamai “Al-’Alaq” (segumpal darah), diambil dari perkataan ’Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan “iqra’” atau “Al-Qalam”.


BAB III
Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari – hari kita selalu ketemu dengan seorang yang mengajar atau pun yang diajari. Yang mana kewajiban belajar mengajar adalah wajib bagi setiap muslim. Seseorang akan selamat dunia maka dengan ilmu,  jika seseorang ingin selamat akhirat maka juga dengan ilmu, dan juga jika seseorang ingin selamat dunia akhirat maka dengan ilmu pula. Kita sangat diwajibkan belajar mengajar sesuai dengan surah Al – Alaq ayat 1-5.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Hayy al-Farmawi, Abd. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1994.
Arsyad, M. Natsir. Sari Buku Pintar Islam Seputar Al-Qur’an, Hadist dan Ilmu. Bandung: Al Bayan. 1996.
Ibarahim Al-Biqa’I, Burhanudin. Nazmu al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Lebanon. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2006.
Jalal, Abdul. Ulum Al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu. 2010.
Muchlas, Imam. Penafsiran Al-Qur’an Tematis permasalahan, Malang: UMM Press. 2004.
Shihab, M.Qurash. Sejarah dan Ulum al-Qur’an, Jakarta; Pustaka Firdaus. 1999.
 Wahbah Ar-Rahili, DR, Ust, Tafsir Munir (Dalam Aqidah,Syari’ah dan Manhaj), Beirut, Libanon : Darul Fikr Al-Ma’ashir, 1991 M/1411 H, cet. 1.
Ahmad Tafsir, DR, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1994, cet.2.
Nur Uhbiyati, Hj. Dra, Ilmu Pendidikan Islam (IPI) Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1998, cet.2.
Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Bandung : PT Al-Ma’arif, 1993, Cet III
Jalaludin Muhammad Ibnu Ahmad Al Mahly, Tafsir Al-Quranul Adzim, Daarul Ilmi, Juz I
Al-Hayy al-Farmawi, Abd. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1994.
Arsyad, M. Natsir. Sari Buku Pintar Islam Seputar Al-Qur’an, Hadist dan Ilmu. Bandung: Al Bayan. 1996.
Baidan, Nashruddin. Metode Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.
Ibarahim Al-Biqa’I, Burhanudin. Nazmu al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Lebanon. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2006.
Jalal, Abdul. Ulum Al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu. 2010.





[1] Jalal, Abdul. Ulum Al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu. 2010.

[2] Al-Hayy al-Farmawi, Abd. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1994.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar