Puji syukur penyusun
panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami
bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Kewajiban Belajar Menganjar “( Kajian
Surah Al - Alaq /96; 1 – 5 ). Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas Mata kuliah Tafsir Tarbawi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah
ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi
masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu
pengetahuan bagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................ i
DAFTAR ISI..................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................. 1
1. Latar Belakang Masalah................................................................ 1
2. Tujuan........................................................................................... 1
3. Metode Penulisan........................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................
A. Teks Ayat Dan Terjemahnya........................................................ 2
B. Keterangan Umum Surah AL – Alaq............................................ 2
C. Isi Pokok Surah Al - Alaq............................................................. 3
D. Munasabah Surah ar- rahman dengan surah sebelum &
sesudahnnya 3
E. Tafsir ayat..................................................................................... 4
F. Intisari Surah Al - Alaq Ayat 1-5.................................................. 6
BAB III PENUTUP........................................................................... 8
Kesimpulan........................................................................................ 8
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1. latar belakang Masalah
Belajar
adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh sejumlah ilmu
pengetahuan. Dalam belajar, kita tidak bisa melepaskan diri dari beberapa hal
yang dapat mengantarkan kita berhasil dalam belajar. Banyak orang belajar
dengan susah payah, tetapi tidak mendapat hasil apa-apa, hanya kegagalan demi
kegagalan yang ditemui.
Namun kita
tidak boleh putus asa, sebagai orang Islam kita wajib menuntut ilmu dari lahir
hingga keliang kubur, dengan Kekuasaan Allah maka kita pasti bisa meraihnya dan
sebagai orang yang berilmu kita juga wajib mengamalkannya.
2. Tujuan
penulisan
Makalah ini disusun agar para
pembaca dan yang membuatnya dapat mengetahui Konsep belajar dan mengajar
,sehingga mereka dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teks Ayat
Dan Terjemahnya
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1. bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
B.
Kandungan Surah Al - Alaq
Surah Al-'Alaq (سورة
العلق) adalah surah ke-96 dalam Al Quran. Surah Al-'Alaq terdiri
atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat
Al-Quran yang pertama sekali diturunkan, iaitu di waktu Nabi
Muhammad s.a.w. di Gua Hira'. Surat ini dinamai Al 'Alaq
(segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat
ini. Surat ini dinamai juga dengan Iqra atau Al Qalam.[1]
Isi kandungan yaitu sebagai berikut :
- Perintah membaca Al Quran;
- manusia dijadikan dari segumpal darah;
- Allah menjadikan kalam (firman ) sebagai alat mengembangkan pengetahuan;
- manusia bertindak melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup;
- ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.
Surat
Al 'Alaq menerangkan bahawa Allah menciptakan manusia dari benda yang hina
kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya
pengetahuan. Tetapi manusia tidak ingat lagi akan asalnya, kerana itu dia tidak
mensyukuri nikmat Allah itu, bahkan dia bertindak melampaui batas kerana
melihat dirinya telah merasa serba cukup.
C.
Isi Pokok Surah Al – Alaq
Surat Al-’Alaq terdiri atas 19 ayat,
termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini
adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi
Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat di gua Hira’. Surat ini dinamai
“Al-’Alaq” (segumpal darah), diambil dari perkataan ’Alaq yang terdapat pada
ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan “iqra’” atau “Al-Qalam”.
Pokok-pokok isinya:
Perintah membaca Al Qur’an; manusia
dijadikan dari segumpal darah; Allah menjadikan kalam sebagai alat
mengembangkan pengetahuan; manusia bertindak melampaui batas karena merasa
dirinya serba cukup; ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang
menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.[2]
D. Hubungan Surahb Al – Alaq dengan
Surah sebelum/sesudahnya
Pada surat Al
’Alaq Allah memerintahkan agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membaca
Al-Qur’an, sedang pada surat Al-Qadr Allah menerangkan tentang permulaan
turunnya Al Qur’an.
(1) Maksudnya:
Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
(2) Yang
dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah: Abu Jahal dan yang
dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. Akan tetapi usaha ini tidak berhasil
karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. Setelah Rasulullah selesai
shalat disampaikan orang berita itu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan:
“Kalau jadilah Abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh
Malaikat↩
(3) Maksudnya:
memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.↩
(4) Malaikat
Zabaniyah ialah malaikat yang menyiksa orang-orang berdosa di dalam neraka. ↩
E. Tafsir ayat
“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang
telah mencipta.” (ayat 1). Dalam waktu pertama saja, yaitu “bacalah”, telah
terbuka kepentingan pertama di dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi
SAW disuruh membaca wahyu akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah,
Tuhan yang telah mencipta.
Yaitu “Menciptakan manusia dari
segumpal darah.” (ayat 2). Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah,
yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si
perempuan, yang setelah 40 hari lamanya, air itu telah menjelma jadi segumpal
darah, dan dari segumpal darah itu kelak akan menjelma pula setelah melalui 40
hari, menjadi segumpal daging (Mudhghah).
Nabi bukanlah seorang yang pandai
membaca. Beliau adalah ummi, yang boleh diartikan buta huruf, tidak
pandai menulis dan tidak pula pandai membaca yang tertulis. Tetapi Jibril
mendesaknya juga sampai tiga kali supaya dia membaca. Meskipun dia tidak pandai
menulis, namun ayat-ayat itu akan dibawa langsung oleh Jibril kepadanya,
diajarkan, sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu
akan dapatlah dia membacanya. Tuhan Allah yang menciptakan semuanya. Rasul yang
tak pandai menulis dan membaca itu akan pandai kelak membaca ayat-ayat yang
diturunkan kepadanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun kelak, dia
akan diberi nama Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an itu pun artinya ialah bacaan.
Seakan-akan Tuhan berfirman: “Bacalah, atas qudrat-Ku dan iradat-Ku.”
Syaikh Muhammad Abduh di dalam
Tafsir Juzu’ Ammanya menerangkan: “Yaitu Allah yang Maha Kuasa menjadikan
manusia daripada air mani, menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia
penuh, niscaya kuasa pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seseorang yang
selama ini dikenal ummi, tak pandai membaca dan menulis. Maka jika kita
selidiki isi Hadis yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga
kali pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca, tiga
kali pula Jibril memeluknya keras-keras, buat meyakinkan baginya bahwa sejak
saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya, apatah lagi dia adalah
Al-Insan Al-Kamil, manusia sempurna. Banyak lagi yang akan dibacanya di
belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa dasar segala yang
akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah jua.”
“Bacalah! Dan Tuhan engkau itu
adalah Maha Mulia.” (ayat 3). Setelah di ayat yang pertama beliau disuruh
membaca di atas nama Allah yang menciptakan insan dari segumpal darah,
diteruskan lagi menyuruhnya membaca di atas nama Tuhan. Sedang nama Tuhan yang
selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah Yang Maha Mulia, Maha
Dermawan, Maha Kasih dan Sayang kepada Makhluk-Nya.
“Dia yang mengajarkan dengan qalam.”
(ayat 4). Itulah keistimewaan Tuhan itu lagi. Itulah kemuliaan-Nya yang
tertinggi. Yaitu diajarkan-Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka-Nya
berbagai rahasia, diserahkan-Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan
Allah, yaitu dengan qalam. Dengan pena! Di samping lidah untuk membaca,
Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat.
Pena adalah beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena itu
adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia “Mengajari manusia
apa-apa yang dia tidak tahu.” (ayat 5).
Lebih dahulu Allah Ta’ala mengajar
manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam
itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga dapat
pula dicatatnya ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang telah
ada dalam tangannya:
“Ilmu pengetahuan adalah laksana
binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu
ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.”
Maka di dalam susunan kelima ayat
ini, sebagai ayat mula-mula turun kita menampak dengan kata-kata singkat Tuhan
telah menerangkan asal-usul kejadian seluruh manusia yang semuanya sama, yaitu
daripada segumpal darah, yang berasal dari segumpal mani.
Dan segumpal mani itu berasal dari
saringan halus makanan manusia yang diambil dari bumi. Yaitu dari hormon,
kalori, vitamin dan berbagai zat yang lain, yang semua diambil dari bumi yang
semuanya ada dalam sayuran, buah-buahan makanan pokok dan daging. Kemudian itu
manusia bertambah besar dan dewasa. Yang terpenting alat untuk menghubungkan
dirinya dengan manusia sekitarnya ialah kesanggupan berkata-kata dengan lidah,
sebagai sambungan dari apa yang terasa di dalam hatinya. Kemudian bertambah
juga kecerdasannya, maka diberikan pulalah kepandaian menulis.
Di dalam ayat yang mula turun ini
telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian membaca dan menulis. Berkata
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya: “Tidak didapat kata-kata yang lebih
mendalam dan alasan yang lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan
kepentingan membaca dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan
bahagianya. Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.”
Maka kalau kaum Muslimin tidak
mendapat petunjuk ayat ini dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan buat maju,
merobek segala selubung pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini
terhadap ilmu pengetahuan, atau merampalkan pintu yang selama ini terkunci
sehingga mereka terkurung dalam bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh
pemuka-pemuka mereka sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan bodoh, dan kalau
ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka
akan bangun lagi selama-lamanya.
Ar-Razi menguraikan dalam tafsirnya,
bahwa pada dua ayat pertama disuruh membaca di atas nama Tuhan yang telah
mencipta, adalah mengandung qudrat, dan hikmat dan ilmu dan rahmat. Semuanya adalah
sifat Tuhan. Dan pada ayat yang seterusnya seketika Tuhan menyatakan mencapai
ilmu dengan qalam atau pena, adalah suatu isyarat bahwa ada juga di antara
hukum itu yang tertulis, yang tidak dapat difahamkan kalau tidak didengarkan
dengan seksama. Maka pada dua ayat pertama memperlihatkan rahasia Rububiyah,
rahasia Ketuhanan. Dan di tiga ayat sesudahnya mengandung rahasia Nubuwwat,
Kenabian. Dan siapa Tuhan itu tidaklah akan dikenal kalau bukan dengan
perantaraan Nubuwwat, dan nubuwwat itu sendiri pun tidaklah akan ada, kalau
tidak dengan kehendak Tuhan.
F. Intisari Surah Al – Alaq
Surat Al-’Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat
Al-Qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad
shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat di gua Hira’. Surat ini dinamai
“Al-’Alaq” (segumpal darah), diambil dari perkataan ’Alaq yang terdapat pada
ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan “iqra’” atau “Al-Qalam”.
BAB
III
Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari – hari kita
selalu ketemu dengan seorang yang mengajar atau pun yang diajari. Yang mana
kewajiban belajar mengajar adalah wajib bagi setiap muslim. Seseorang akan
selamat dunia maka dengan ilmu, jika
seseorang ingin selamat akhirat maka juga dengan ilmu, dan juga jika seseorang
ingin selamat dunia akhirat maka dengan ilmu pula. Kita sangat diwajibkan
belajar mengajar sesuai dengan surah Al – Alaq ayat 1-5.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hayy al-Farmawi, Abd. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada. 1994.Arsyad, M. Natsir. Sari Buku Pintar Islam Seputar Al-Qur’an, Hadist dan Ilmu. Bandung: Al Bayan. 1996.
Ibarahim Al-Biqa’I, Burhanudin. Nazmu al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Lebanon. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2006.
Jalal, Abdul. Ulum Al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu. 2010.
Muchlas, Imam. Penafsiran Al-Qur’an Tematis permasalahan, Malang: UMM Press. 2004.
Shihab, M.Qurash. Sejarah dan Ulum al-Qur’an, Jakarta; Pustaka Firdaus. 1999.
Wahbah Ar-Rahili, DR, Ust, Tafsir Munir (Dalam
Aqidah,Syari’ah dan Manhaj), Beirut, Libanon : Darul Fikr Al-Ma’ashir, 1991
M/1411 H, cet. 1.
Ahmad Tafsir, DR, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif
Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1994, cet.2.
Nur Uhbiyati, Hj. Dra, Ilmu Pendidikan Islam (IPI)
Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1998, cet.2.
Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Bandung : PT
Al-Ma’arif, 1993, Cet III
Jalaludin Muhammad Ibnu Ahmad Al Mahly, Tafsir
Al-Quranul Adzim, Daarul Ilmi, Juz I
Al-Hayy al-Farmawi, Abd. Metode Tafsir Mawdhu’iy. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada. 1994.Arsyad, M. Natsir. Sari Buku Pintar Islam Seputar Al-Qur’an, Hadist dan Ilmu. Bandung: Al Bayan. 1996.
Baidan, Nashruddin. Metode Penafsiran Al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.
Ibarahim Al-Biqa’I, Burhanudin. Nazmu al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Lebanon. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2006.
Jalal, Abdul. Ulum Al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu. 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar